Imlek Bakmi Festival Tirta Lie [17 – 19 Januari 2019] – NON HALAL

 

DISCLAIMER : NON-HALAL

Tak terasa sebentar lagi sudah mau Imlek. Ornamen merah mulai menghiasi pusat perbelanjaan, tentu tidak ketinggalan musik berbahasa Mandarin maupun bazzar berbau Imlek. Hal itu semakin terasa jika tinggal atau sedang bekerja di area pecinan (kebetulan saya bekerja dan pernah besar di area pecinan, juga merayakan Imlek, sehingga terasa sekali dibandingkan area-area lainnya).

Continue reading →

Gambar-Gambar Buatan Sendiri

Postingan tidak penting sama sekali tapi ingin dishare saja.

Pertama kali suka gambar karena kebanyakan nonton Sailor Moon waktu kecil, coba-coba meniru dan semakin besar malah suka banget dengan karya pengarang Sailor Moon itu sendiri. Setelah besar makin suka doodle macam-macam biasanya berkaitan dengan motif Nordik modern atau berbau makanan (beginilah kalau tukang makan).

Hasil gambar saya tanpa scanner. Untuk lengkapnya bisa lihat di akun IG saya : verena.de dengan #verenasdoodle

Tapi saya tidak keberatan untuk membagi beberapa gambar.

1. Ritter Sport. Ga tau ada apanya ini cokelat malah kecanduan sama ini cokelat sampai orang Jerman kenalan gw inget gw ingetnya Ritter Sport mulu. Banyak bener rasa asli Jerman kagak dijual di sini.

2. Gudetama. Bukan fans banget tapi suka komposisi warnanya. FYI, muka Gudetama ngeselin, hihi . . . Pengen tak makan aja.

3. Princess Cake khas Swedia. Inspirasi warnanya maksudku.

4. Warna bendera Swedia dan Finlandia. Pertama kali benar-benar suka Eropa sampai diseriusin ya dua negara ini.

5. Dari warna-warni es krim jadul ala Italia di Jakarta Pusat. Waktu kecil suka sekali dengan itu semua sampai dimarahi mama karena kebanyakan es krim.

6. Flying Tiger Copenhagen (Denmark) dan Marimekko (Finlandia). Tolong buka di Indonesia, hiks.

7. Nutella dan grup Ferrero. KinderJoy di Eropa keknya lebih gede dan isinya bener-bener dibandingkan Indonesia punya.

8. Tiga sutradara terkenal asal Italia. Suka sama Luchino Visconti banget. Hehehe . . . Semoga tulisan kebaca.

9. Inspirasi motif Arabia Finland.

10. Warna motif bendera Jerman.

11. Inspirasi Miffy/Nijntje untuk warna dan kesederhanaan desainnya.

12. Verkade Belanda vs Indonesia. Yang Indonesia lebih Belanda dari aslinya.

13. Wafer Manner bukan Männer dari Wien, Austria. Macam-macam serinya tapi tetap yang terkenal wafernya. Tiap tahun beli kalau bazzar.

14. Kue adaptasi Belanda di Indonesia. Kebanyakan saya baru tahu namanya pas besar.

15. Wafer Loacker. Sekarang bukan favorit karena lebih suka Manner cuma ini wafer kenangan jaman kecil karena Papa suka beliin sebelum krisis 98. Kayaknya murah karena dulu saya tinggal di Kelapa Gading.

16. Pallete warna bendera Denmark, Norwegia dan Islandia.

17. Random pallette. Suka main-main sama warna hasilnya begini.

18. Random expression.

19. Random coloring.

20. Last but not least. IKEA inspired.

Gambar hanya untuk hobi semata, profesi berkaitan dengan bolak balik pengadilan. Alat gambar : pensil warna, pulpen khusus menggambar yang harganya tidak sampai 15 ribu, spidol.

With love,

Nana

German Cinema 2019

Selamat Hari Ibu untuk semua Ibu (baik yang tinggal di Indonesia atau saat ini tidak berada di Indonesia) dan Selamat Natal juga bagi yang merayakan. Karena saya tidak pulang selama Natal (yang penting sudah Natalan), saya bersih-bersih apartemen dan buang-buang barang yang tidak terpakai.

EE-A7G1U4AE_hcU.jpg

Kali ini saya akan membahas acara German Cinema 2019 kemarin. Harusnya saya bahas dari kemarin-kemarin tapi saya lupa tetapi tidak apa-apa dibahas lagi. Karena saya suka nonton Arthouse Cinema di Goethe Institut, otomatis dapat tiket gratis opening German Cinema. Merayakan 30 tahun runtuhnya Tembok Berlin (30 Jahre Mauerfall), terdapat 3 film istimewa berjudul Balloon, Adam & Evelyn, Gundermann (perasaan semuanya nama orang kecuali Balloon, hehehe . . .). Hampir semua film Jerman saya tonton kecuali Amelie Rennt karena saya sibuk lihat-lihat pameran KLM yang ada di Erasmus Huis (kapan-kapan saya bahas). Ada lima film Jerman favorit, salah satunya adalah film pembukaan.

MV5BNzFiMjQ0YjAtMjI1ZC00NTYyLWJkZDgtZTU5MGE3ZDU2MDA1XkEyXkFqcGdeQXVyMDU5MDEyMA@@._V1_SY1000_CR0,0,706,1000_AL_.jpg

Film pembukaannya adalah Balloon (sutradara : Michael ‘Bully’ Herbig, 2018, genre : drama/thriller) yang diambil dari kisah nyata keluarga Strelzyk dan Wetzel dari Jerman Timur yang mencoba melarikan diri ke Jerman Barat dengan menggunakan balon udara. Percobaan pertama dalam pembuatan balon udara gagal total, lalu dicoba lagi terus menerus sampai akhirnya bisa walau dikejar-kejar oleh Stasi. Benar-benar menegangkan, cocok sebagai pembuka dan tidak rugi menonton. Di Jakarta sudah dua kali diputar, pertama untuk undangan dan yang kedua untuk umum.

MV5BZDU3NWQwYjEtOGM5Zi00NTdjLWJmMDUtOGZhYTZiODcyNjFlXkEyXkFqcGdeQXVyNTY4NjQ0MzY@._V1_SX707_CR0,0,707,999_AL_.jpg

Der Junge muss an die frische Luft (sutradara : Caroline Link, 2018, genre : drama) merupakan kisah nyata dari komedian Jerman bernama Hape Kerkeling. Terkesan ceria di awal, seorang anak humoris bernama Hans-Peter dan kehidupannya mulai berubah setelah sang ibu mengalami depresi. Berbagai cara si anak menghibur sang Ibu namun naas . . . tidak terbayang bagaimana rasanya menjadi Hans-Peter. Cocok untuk menutup hari terakhir German Cinema. Menyentuh hati, menyedihkan sekaligus gelak tawa. Lagu yang melatari film ini juga terngiang-ngiang di telinga, judulnya Du bist nicht allein (Kamu Tidak Sendirian) yang dinyanyikan oleh Roy Black.

MV5BOTJlZmVhOTYtZTMwYi00NDY4LWIyMmEtNjRlZmJhZmFmNWNjXkEyXkFqcGdeQXVyMzQwNjY3MDU@._V1_SY1000_CR0,0,706,1000_AL_.jpg

 

25 KM/H (sutradara : Markus Goller, 2018, genre : komedi, drama, petualangan). Berlatar di Schwarzwald (Black Forest), kakak beradik bernama Christian dan Georg yang tidak bertemu satu sama lain setelah 30 tahun lamanya (buset!) lalu berencana untuk merealisasikan impian masa kecil mereka yaitu bersepeda keliling Jerman. Film ini menyuguhkan pemandangan Jerman juga humor dan keseruan. Wajib tonton!

MV5BNTUxMzNhMWEtMjJjMi00NTM2LWI2MDgtYjllMGU0YTNiZGYwXkEyXkFqcGdeQXVyMDU5MDEyMA@@._V1_SY1000_CR0,0,706,1000_AL_.jpg

Tema menjelang penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur berbalut romansa dalam film Adam & Evelyn (sutradara : Andreas Goldstein, 2018, genre : romance/drama).  Evelyn memutuskan untuk liburan ke Hungaria setelah berpikir Adam mengkhianatinya. Ia ingin melarikan diri dari Jerman Timur sedangkan Adam tetap menetap. Cemburu-cemburuan, bawa pasangan lainnya, ujung-ujungnya balikan lagi dan akhirnya Adam memilih menemani kemanapun Evelyn pergi. Bikin gemes dua-duanya, ingin tak jitakin, lol. Film ini adaptasi dari buku berjudul sama karangan Ingo Schultze.

MV5BMTQzZmFlMmEtMTNmOC00OTAyLTkyNjgtODVhNWEzYjdhNzIwXkEyXkFqcGdeQXVyNTY3NTM4NTk@._V1_SY1000_CR0,0,706,1000_AL_.jpg

Hari Jumat, tengah malam, saya menonton film Fritz Lang (sutradara : Gordian Maugg, 2016, genre : drama/biografi). Pasti tidak asing dengan nama Fritz Lang, yang menyutradarai film Metropolis keluaran tahun 1927. Dalam film ini, hitam putih, dikisahkan Fritz Lang sedang mencari bahan untuk film terbarunya sambil melacak pembunuh berantai misterius sementara ia bergulat dengan masa lalunya yang kelam. FYI, saya suka Fritz Lang muda yang diperankan oleh Max von Pufendorf [ngikik].

Film-film lain yang bersifat dokumenter adalah Exit – Leaving Extremism Behind (sutradara : Karen Winther, 2018) tentang radikalisme dan bagaimana cara keluar dari radikalisme serta sebab-sebab seseorang menjadi radikal. Juga The Cleaners (sutradara : Hans Block/Moritz Riesewick, 2017) yang mengungkapkan betapa beratnya menjadi moderator konten yang berpusat di Manila, Filipina. Mereka bertugas untuk menghilangkan konten-konten yang tidak patut agar dunia maya menjadi tempat yang aman untuk dijelajahi. Namun bagaimana dengan para moderator tersebut?

Sampai jumpa di German Cinema 2020 (semoga tahun depan ada lagi).

70555835_393374341617392_5548394542082324280_n.jpg

With love,

Nana

Christkindl-Markt 2019

Mohon maaf untuk para pembaca karena saya sudah lama tidak muncul (sebenarnya lupa password dan baru ingat). Berhubung banyak acara menarik sepanjang tahun, kali ini saya ingin membahas yang diadakan oleh Die Brücke Stiftung (Yayasan Jembatan) di Indonesia. Acara ini semacam charity bazzar yang menjual snack dan makanan khas Jerman juga kerajinan Indonesia.

Bertempat di DoubleTree Cikini, Jakarta Pusat dengan tiket masuk Rp 50.000,- untuk didonasikan. Dimulai dari jam 14.00 sampai 19.00. Kita bisa menikmati makanan, kue-kue, snack khas Jerman dengan harga (lumayan) murah dan pastinya tidak/jarang dijual di luaran bahkan oleh jasa titip snack impor sekalipun.

Ada yang bawaannya suka segambreng padahal sudah tahu ada bazzar? Tenang saja, DB Schenker Indonesia deposit solusinya. Kita bisa menitipkannya di sini, kalau beruntung malah bisa juga mendapatkan tote bag dari DB Schenker Indonesia.

Christkindl-Markt 2018 – Donau-schnitte

Berhubung tahun lalu saya juga menghadiri bazzar ini, incaran saya adalah Kardinalschnitte, Donauwelle, Fantakuchen tapi tahun ini tidak ada [menangis guling-guling]. Tahun lalu masalahnya saya tidak berani banyak makan kue karena habis acara SIAL Interfood dan makan babi terlalu banyak. Mau bawa pulang saya juga ragu soalnya beli banyak takut terbuang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Banyak sekali tipikal kue-kue Jerman dan Austria yang dijual (seperti slideshow di atas), murni buatan sendiri. Saya cenderung anti manis sebetulnya terutama kue-kue mass production (lebih ke selera). Kue-kue ini kelihatan kue-kue rumahan, lebih menarik bagi saya dan saya sengaja memilih kue Jerman yang jarang dijual di Indonesia (mau rasa tidak cocok itu urusan belakangan, lebih baik menyesal karena rasa tidak sesuai ekspetasi daripada tidak mencoba sama sekali). Tahun ini yang dijual sangat didominasi oleh apel, sayangnya apel adalah makanan terakhir yang akan saya makan. Masih ingat saya membeli Apfelstrudel di salah satu restoran Swiss yang berlokasi di Jakarta Pusat (sekarang pindah ke Jakarta Barat), untuk menghabiskan satu potong saja susahnya setengah mati karena saya pikir ukurannya kecil mengingat harganya murah.

20191130_1416572252967105345589448.jpg

Akhirnya saya memilih kue lemon yang kelihatan asam sekali (saya pecinta asam, kawan-kawan). Syukurlah insting saya tepat sekali sebab rasa asam lemon-nya betul-betul berasa, bukan kaleng-kaleng. Sepiring tandas. Tahun berikutnya kalau saya ke bazzar makanan Jerman, ajak satu atau dua teman yang penggila manis supaya bisa berbagi.

Stollen adalah kue wajib khas Natal. Sepanjang bazzar, sekitar empat kali saya melihat penjual Stollen dengan harga dan booth berbeda. Untuk satu orang ada, beramai-ramai juga ada. Acara ini tahunan, bagi yang pemula makanan Jerman, lebih baik pilih yang kecil terlebih dahulu, kalau suka baru beli yang besar.

Nah, bagian paling menarik adalah bagian camilan dan snack Jerman. Sebetulnya saya mengincar Ritter Sport asli Jerman karena di Indonesia rasa terbatas (mengapa di Indonesia semakin lama camilan impor Eropa semakin jarang? Di bawah 2013 dulu banyak masuk snack semacam Droste, Leibniz, Coppenrath dan lain sebagainya).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tahun ini Bahlsen merajai bazzar, dimana-mana Bahlsen bahkan edisi khususnya. Pas saya cek di website Bahlsen sendiri ternyata edisi khusus Natal tahun ini. Harganya bervariasi mulai dari Rp 50.000,-  sampai Rp 120.000,- (yang paling mahal yang Stollen ini).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Masih Bahlsen. Ada lagi . . . Beli 10 buah hanya Rp 20.000/10 buah kecuali yang bintang itu Rp 50.000/10 buah.

20191130_1422245790014936284495324.jpg

Sebetulnya di bagian snack ada banyak (lihat dari IG punya Kedutaan Jerman). Tapi dasar sayanya ceroboh malah ke bagian kue dulu, tahu-tahu sudah kebagian sedikit, hahaha . . . Ada Knoopers, Duplo, Milka, Ritter Sport, Niederegger, Hanuta dan lain-lain. Orang-orang kalau ketemu Knoopers, Hanuta, Milka macam singa lepas, hahahaha . . . Akhirnya saya membeli sebungkus snack Bahlsen dan dua Ritter Sport edisi Natal. Puji Tuhan dapat juga.

20191130_1440526990033087156137702.jpg

Ditutup makan malam sosis Thuringia (lupa beli sauerkraut gara-gara kebanyakan beli snack). Tak ketinggalan hidangan khas Jerman atau bahkan mulled wine beralkohol atau non-alkohol.

20191130_1449445306781335546678342.jpg

Sudah puas makan-makan dan belanja. Kalian bisa mencoba tombola. Siapa tahu kalian beruntung mendapatkan hadiah menarik. Bagi yang punya anak, bazzar ini ramah anak karena ada foto bersama Santa Claus dan mendapatkan camilan dari Santa Claus juga dan menghias kue jahe.

Terima kasih bagi para pembaca 🙂 sampai berjumpa di tulisan berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Late Post] The Extraordinary Italian Taste [19 – 25 November 2018]

20181119_123544.jpg

 

Kedutaan Besar Italia dan IIC Jakarta kembali mengadakan The Extraordinary Italian Taste ketiga yang berlangsung dari tanggal 19 – 25 November 2018. Kebetulan topiknya soal makanan yang pastinya banyak makanan gratis asli Italia. IIC Jakarta memang paling baik dalam hal menjamu makanan *ketawa ngikik* ditambah topik dan acara menarik. Semakin lengkaplah sudah kita merasakan bagaimana Italia sebenarnya, bukan yang model novel picisan itu, isinya kebanyakan tidak mencirikan Italia.

Continue reading →

Re-opening Erasmus Huis [23 November 2018]

Karena berbagai ragam kesibukan di dunia nyata, akhirnya blog ini saya angguri, yihaaa *ditakol* Gambar ada banyak, mau menulis pun rada malas. Hahaha . . . Padahal kalau tidak saya cepat tulis bisa lupa sama sekali padahal ini merupakan hal positif yang sebaiknya saya bagikan.

Saya jarang sekali datang ke acara Erasmus Huis (pusat budaya Belanda). Bukan karena acaranya jelek, hanya saja memang kebanyakan Erasmus Huis ini acaranya di luar Erasmus Huis. Kalaupun di dalam ruangan justru film dan acara musik (saya pribadi tidak terlalu suka acara musik).

Continue reading →

Curhat : Dukanya Menjadi Penggemar Film Eropa

Sebagai penggemar film Eropa yang berdomisili Jakarta, saya bersyukur ada banyak pusat kebudayaan yang memutar film secara rutin maupun festival film tahunan. Untuk acara rutin ada Kineforum yang memutar film dari seluruh dunia, ArtHouse Cinema dari Goethe Institut, Cine-Macet dari Institut Français, IIC Cine Club dari Istituto Italiano di Cultura. Sedangkan festival filmnya adalah German Cinema, Europe on Screen, 100% Manusia (ini sejenis Kineforum yang memutar film dari seluruh dunia) dan festival lainnya.  Ada yang gratis, ada juga yang berbayar model Kineforum dan Cine-Macet. Pastinya film yang kita tonton ini tidak mengecewakan, paling pusing saja karena film Eropa kebanyakan alurnya lambat.

Continue reading →

Maison Weiner Kwitang

20181011_132142

Awal mula saya ke Maison Weiner berawal dari postingan qraved di IG tentang toko kue jadul yang wajib dikunjungi ketika di Jakarta lalu nama Maison Weiner tercantum di sana. Saya besar di Jakarta tapi Jakarta terlalu luas sehingga saya sendiri tidak tahu ada toko kue bernama Maison Weiner di Kwitang.

Continue reading →

Pengalaman Menonton ARTHOUSE Cinema di Goethe Institut

Walau saya sering main ke Goethe Institut untuk baca-baca di perpustakaan waktu jaman masih thesis dan lagi gila-gilanya baca buku perjalanan di Jerman (tapi bahasa Jerman semua, ngerti sedikit-sedikit yang penting banyak gambarnya) tapi bisa dibilang nggak pernah nonton di ARTHOUSE Cinema.

 

Continue reading →

German Cinema [4 – 21 Oktober 2018]

Yay, postingan pertama di bulan Oktober. Setelah menunggu dua tahun, akhirnya German Cinema hadir kembali. Saya senang akhirnya tahun ini diadakan karena saya penggemar film Jerman 🙂 kalau sampai tidak ada, hiburan nonton gratisan saya malah tidak ada TT_TT (bukan pecinta film bioskop, lebih suka nonton film Eropa).

Continue reading →